Sosoknya begitu sempurna. membuatku haru selalu berfikir dua kali dalam melakukan sesuatu. apapun itu.
Memang, ini kebiasaan buruk yang tuhan pun tidak pernah menyukainya.
aku sebenarnya bukan pribadi yang senang membanding-bandingkan diriku dengan yang lainya. Karena, aku pikir semua manusia itu sama derajatnya. dan semua manusia pasti punya kelebihan dan kekurangan.
Namun, Prinsipku goyah karenanya.
Semenjak mengenalnya atau lebih tepatnya, Semenjak ia datang mengusik kehidupanku, aku tidak bisa berpegang teguh dengan janji manisku itu.
Aku seringkali membandingkan diriku dengan dirinya. aku merasa bahwa dia adalah makhluk yang sempurna. sedangkan aku bukan apa-apa.
Dimulai dari fisik, kecerdasan, kemampuan atau keahlian lain, tingkah laku, sifat bahkan sampai materi, semua aku bandingakan. aku dan dia bagai langit dan bumi. itu yang aku kira.
Apakah aku membencinya? Tidak.
Apakah dia pernah mengganggu kehidupanku? Ya, Pernah
Apakah aku memaafkanya? Ya, Tentu
Apakah aku merasa nyaman? Nah, Ini yang akan selalu menjadi pertanyaan.
Namun, dibalik ini semua, aku sangat berterimakasih padanya. berkat dia, aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. aku bisa mengendalikan diriku. aku belajar sabar dan mengerti perasaan, dari dia. banyak hal yang telah aku pelajari darinya sampai-sampai aku tak bisa menyebutkan semuanya.
Intinya, aku jadi mengerti hidup. Yaa, secara harafiah aku belum tau apa arti kehidupan yang sebenarnya. ibarat gelas, gelas itu masih kosong. namun berkat dia dan segala kesempurnaanya yang terus menguji kesabaranku, kini gelas itu terisi. mungkin tidak penuh atau malah tidak sampai setengan. tapi aku tetap berterimakasih. yang penting, kini gelas itu terisi.
Kapan gelas itu akan penuh? Tentu aku tak tahu
Yang pasti, masih banyak ujian yang menungguku diluar sana.
Jalanku masih panjang.
Dan harapan untuk mengisi penuh gelas itu dengan pelajaran kehidupan, masih ada.