Sabtu, 10 Maret 2012

Aku curiga, bahwa ia dilahirkan hanya untuk menguji kesabaranku.

Sosoknya begitu sempurna. membuatku haru selalu berfikir dua kali dalam melakukan sesuatu. apapun itu.
Memang, ini kebiasaan buruk yang tuhan pun tidak pernah menyukainya.
aku sebenarnya bukan pribadi yang senang membanding-bandingkan diriku dengan yang lainya. Karena, aku pikir semua manusia itu sama derajatnya. dan semua manusia pasti punya kelebihan dan kekurangan.

Namun, Prinsipku goyah karenanya.
Semenjak mengenalnya atau lebih tepatnya, Semenjak ia datang mengusik kehidupanku, aku tidak bisa berpegang teguh dengan janji manisku itu.
Aku seringkali membandingkan diriku dengan dirinya. aku merasa bahwa dia adalah makhluk yang sempurna. sedangkan aku bukan apa-apa.

Dimulai dari fisik, kecerdasan, kemampuan atau keahlian lain, tingkah laku, sifat bahkan sampai materi, semua aku bandingakan. aku dan dia bagai langit dan bumi. itu yang aku kira.

Apakah aku membencinya? Tidak.
Apakah dia pernah mengganggu kehidupanku? Ya, Pernah
Apakah aku memaafkanya? Ya, Tentu
Apakah aku merasa nyaman? Nah, Ini yang akan selalu menjadi pertanyaan.

Namun, dibalik ini semua, aku sangat berterimakasih padanya. berkat dia, aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. aku bisa mengendalikan diriku. aku belajar sabar dan mengerti perasaan, dari dia. banyak hal yang telah aku pelajari darinya sampai-sampai aku tak bisa menyebutkan semuanya.

Intinya, aku jadi mengerti hidup. Yaa, secara harafiah aku belum tau apa arti kehidupan yang sebenarnya. ibarat gelas, gelas itu masih kosong. namun berkat dia dan segala kesempurnaanya yang terus menguji kesabaranku, kini gelas itu terisi. mungkin tidak penuh atau malah tidak sampai setengan. tapi aku tetap berterimakasih. yang penting, kini gelas itu terisi.

Kapan gelas itu akan penuh? Tentu aku tak tahu
Yang pasti, masih banyak ujian yang menungguku diluar sana.
Jalanku masih panjang.
Dan harapan untuk mengisi penuh gelas itu dengan pelajaran kehidupan, masih ada.

Jumat, 09 Maret 2012

Iklan Diri 60 Detik

Saya, Dini nur larasati. Berumur 16 tahun. Berstatus seorang pelajar. Bermimpi menjadi seorang jurnalis. Dan berkeinginan untuk masuk Hukum UI. Menyimpang bukan? Mungkin itu menurut anda, tapi tidak menurut saya.

Saya merupakan seorang yang membenci sistem hukum di Indonesia. dan dengan dasar kebencian itulah saya jadi mengagumi ilmunya. Saya ingin mendalammi hukum Indonesia lebih jauh dan lebih luas lagi. Karena saya yakin, Hukum Indonesia tidak sebobrok kenampakanya.

Untuk masuk ke Hukum, terutama UI (Yang notabene merupakan universitas terbaik di saentro negri), saya memiliki 4 Kunci utama dalam mewujudkanya. Yakni, Niat, Kerja Keras, Berdoa dan Pasrah menunggu takdir datang menjemput. Saya merupakan pribadi yang ambisius, pekerja keras dan tidak gampang menyerah. dan saya yakin tahun ini saya sudah memiliki jaket kuning bermakara merah. dan 5 taun lagi saya sudah menjadi jurnalis yang bekerja di media cetak kebanggan indonesia sejak tahun 1965. Koran Kompas.

Itu merupakan iklan diriku yang aku buat dalam waktu 60 detik. ini merupakan tugas konseling yang diberikan oleh pembimbing sekaligus motivator kebangganku, Pak Mutiha. Aku harap iklan itu buka hanya tulisan belaka. aku ingin setiap kata dalam iklan itu menjadi nyata, suatu saat nanti.


Ini merupakan lanjutan atau mungkin tanggapanku mengenai tulisanku sendiri. Beberapa saat setelah menulis opini yang berjudul "Apa salah mereka yang Oriental?" di Kompasiana, banyak pihak yang menanggapi, memuji bahkan mengkritik tulisanku itu.

Alhamdulillah, tulisanku dibaca sekitar 630 orang hingga hari ini. Dan tulisanku dikomentari oleh 6 kompasiana. 3 diantaranya memuji opini yang kubuat. mereka mengatakan bahwa mereka yang menghina cina adalah mereka yang tak berpendidikan dan tak punya otak. dan 3 orang itu keturunan tionghoa, pantas saja mereka mendukungku :)

Sisanya? 3 orang pribumi yang datang mengkritik tulisanku. intinya sama, mereka merasakan sendiri perlakuan cina yang semena-mena terhadap pribumi. Cina menyebut pribumi dengan sebutan "Orang lu". jadi sebaiknya tidak hanya "Apa salah mereka yang oriental?" namun harus dibuat juga "Apa salah mereka yang Pribumi?"

Membaca semua tanggapan itu, aku hanya bisa tersenyum. Bangga. Aku tidak merasa terpojokan setelah dikritik. Aku malah terpacu untuk menulis dengan lebih baik lagi.

Terimakasih Semua,Tunggu opiniku yang selanjutnya :-)

Kamis, 01 Maret 2012

"Kita ini generasi penerus bangsa!"

Berapa kali aku mendengar semboyan itu. Berapa kali pula aku mendalami maknanya.
aku tak tahu.

Kami, tidak hidup di zaman belanda, jepang, orde lama, atau pun orde baru.
Kami, anak-anak 90-an, berada di zaman reformasi.

Kehidupan kami modern, kesenjangan sungguh ketara. kehidupan kami ini aneh, tapi nyata. laten, itu menurutku.

ingin rasanya hidup di masa itu, merasakan bagaimana krisis yang dialami indonesia. bukan berarti kini indonesia tak digandrungi krisis. namun problematika dulu dan kini beda, itu menurutku.

Aku tak henti hentinya bertanya kepada diriku sendiri, apa yang akan terjadi di masa depan nanti? masa dimana generasi kita sudah berdiri menjadi pemimpin bangsa. tak terbayang olehku bila teman sebangku ku menjadi presiden. apa yang akan terjadi?

Aku tidak bisa hanya diam dan berharap. aku juga bisa bertindak. perlahan, namun pasti.
cita-citaku akan kugapai, dan akan kuwarnai indonesia dengan pengabdian dan kontribusiku untuk negri ini.

Salam, dari calon jurnalis masa depan

Kamis, 16 Februari 2012

mungkin, ada kata lelah dalam bekerja. namun, tidak ada kata lelah dalam mengabdi dan berkontribusi.
Kami semua bintang kejora.
Kami semua sama.

Tapi sinar kami berbeda-beda.

Disini kami, 19 anak terpilih, berdoa dengan penuh harap.
Agar diterima di bumi ganesha.
atau mendapat jaminan memiliki jaket kuning.

dari 19 anak itu, aku pasrah.
dari 19 anak itu, aku peringkat terakhir.
bukan merendah, namun ini kenyataan.

Mungkin mereka yakin seraya berharap.
tapi aku, hanya bisa tersenyum seraya berharap.
menunggu keajaiban itu menjemputku, tidak ada yang tidak mungkin bukan?
namun bila mimpi itu tak segera menjemputku, aku akan tetap menegakan kepala, dan tersenyum.
karena aku yakin, mimpi aku akan segera menjemputku, suatu saat nanti.

dari 19 anak itu ada 3 anak yang aku harap bisa memiliki jaket kuning.
tolong Ya Allah,
mereka adalah bintang kejora, yang sinarnya tak kalah indanhnya dengan sinar rembulan.

Biar aku saja yang berjuang dalam kerasnya ujian tertulis.
tolong loloskan mereka bertiga ya allah.

tak terbayang bilamana harapanku menjadi nyata, mungkin aku orang pertama yang akan menangis bahagia mendengar kabar baik itu.

Loloskan mereka di jalur ini ya allah.
bila ada keajaiban, loloskan aku juga ya allah.
aku tidak pesimis. namun, aku tau diri.
dan tidak akan berhenti berharap.



Aku membisu dalam kemarahan.
Memandang dengan pandangan arogan ke sekelilingku.

Aku termenung dalam kesedihan.
Memandang dengan mata sayu ke sekelilingku.

Aku tertawa dalam kebahagiaan.
Memandang dengan mata berbinar ke sekelilingku.

Aku tak berkutik dalam kepasrahan.
Aku tak bisa memandang dengan pandangan arogan, mata sayu apalagi mata berbinar.
Aku hanya bisa memandang penuh harap ke sajadah itu,
Aku hanya bisa memeluk erat kitab itu,
dan aku hanya bisa menunggu takdirmu dalam diam dan dalam kesunyian.

Ya Allah, aku mohon petunjukmu Ya Allah.
Tolong aku Ya Allah.
Tolong..